Puasa Syawal dan Qodho Puasa Ramadhan mana yang utama ?

Puasa Syawal dan Qodho Puasa Ramadhan mana yang utama ?

Puasa Syawal dan Qodho Puasa Ramadhan mana yang utama ?

Yang mau siap siap Puasa Syawal ada baiknya baca artikel ini penting.

Puasa Syawal dan Qodho Puasa Ramadhan mana yang utama ?

Sebagian wanita,  janganlah salah dalam menyikapi puasa sunnah nan mulia, yakni puasa Syawal. Kadang  kita lebih semangat menyelesaikan puasa Syawal daripada menunaikan utang puasa. Padahal puasa qodho’ adalah dzimmah(kewajiban) sedangkan puasa Syawal hanyalah amalan sunnah.

Beberapa hari yang lalu saya ada sedikit diskusi dengan saudara – saudara saya tentang ;

  1. Puasa syawal dan qodho puasa mana yang utama ?
  2. Apakah puasa syawal harus berurutan ?

Nah untuk hal ini, penting kiranya dibahas, terlebih lagi untuk kaum wanita, kadang yang namanya laki – laki suka lupa kalau tidak semua wanita dapat menunaikan puasa penuh dibulan ramadhan, karena di bulan ramadhan wanita terhalang dengan datangnya haid, sehingga ada beberapa hari haram hukumnya puasa dan harus mengqodho puasa ramadhan. Yang jadi perdebatan adalah bagaimana sikap yang benar apakah puasa syawal di dahulukan, karena waktunya sebentar Cuma sebulan, ataukah mengqodho puasa ramadhan.

Akhirnya didapati beberapa jawaban penting, yang saya rasa perlu juga untuk diketahui oleh sahabat – sahabat sekalian.

Beberapa ulama mengatakan bahwa kewajiban harus didahulukan, setelah kewajiban dipenuhi dapatlah kita melakukan amalan sunnah.

Intinya adalah puasa Syawal dapat dilakukan setelah mengqodho’ puasa ramadhan atau membayar utang puasa.

Untuk mendapatkan keutamaan puasa syawal setahun penuh, qodho puasa ramadhan haruslah diselesaikan secara sempurna, baru diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawal.

sebagaimana disebutkan dalam hadits,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Yang artinya “bahwa barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh”. (HR. Muslim no. 1164).

Yang terpenting adalah, bahwa kita tidak tau usia kita sampai kapan, apakah esok hari kita masih menikmati dunia ini atau sudah pulang ke pangkuan ilahi, jadi adabaiknya segerakan yang wajib dari yang sunnah.

Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa amalan wajib itu lebih utama dari yang sunnah,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ:

Tidaklah hambaku mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib hingga aku mencintainya(HR. Bukhari no. 6502)

Sa’id bin Al Musayyib berkata mengenai puasa sepuluh hari (di bulan Dzulhijjah),

لاَ يَصْلُحُ حَتَّى يَبْدَأَ بِرَمَضَانَ

Tidaklah benar melakukkannya sampai memulainya terlebih dahulu dengan mengqodho’ puasa Ramadhan. (Diriwayatkan oleh Bukhari)

Ini adalah diskusi saya yang kedua tentang puasa syawal apakah harus berurutan atau boleh di selang – seling kah ;

Beberapa pendapat tentang pelaksanaan puasa Syawal

,Pendapat pertama

Diutamakan untuk menjalankan puasa Syawal secara berturut-turut, sejak awal bulan.

<pendapat Imam Syafi’i dan Ibnul Mubarak.> Pendapat ini hadisnya lemah.

Pendapat kedua,

Dianjurkan, tidak ada keutamaan, baik dilakukan secara berturut – turut maupun dilakukan secara terpisah-pisah.

pendapat Imam Waki’ dan Imam Ahmad

Pendapat ketiga,

Tidak boleh melaksanakan puasa pada hari kedua setelah Idul Fitri karena masih dalam hari makan dan minum. Namun, sebaiknya puasanya dilakukan sekitar tengah bulan.

Ini adalah pendapat Mamar, Abdurazaq, dan diriwayatkan dari Atha.

Kata Ibnu Rajab, “Ini adalah pendapat yang aneh” (Lathaiful Maarif, hlm. 384–385)

Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa puasa syawal boleh dilakukan tanpa berurutan.

Syekh Abdul Aziz bin Baz ditanya tentang puasa Syawal, apakah harus berurutan?

Beliau menjelaskan, bahwa puasa 6 hari di bulan Syawal adalah sunah yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan keterangan secara khusus namun secara umum terkait pelaksanaan puasa Syawal, dan beliau tidak menjelaskan apakah berurutan ataukah terpisah. Jadi boleh dikerjakan secara berurutan atau terpisah.

Beberapa hadits shahih tentang puasa syawal yaitu :

Dari Abu Ayyub al Anshari Radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ رواه مسلم وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ““Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diiringi dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka dia seperti puasa sepanjang tahun””.

(Diriwayatkan oleh Imam Musli’m, Abu Dawud, at Tirmidzi’, an Nasaa-i’ dan Ibnu Majah).

Dari Tsauban maula (pembantu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا رواه ابن ماجه والنسائي ولفظه :

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda :

Barangsiapa yang melakukan puasa enam hari setelah hari raya ‘Iedul Fithri, maka, itu menjadi penyempurna puasa satu tahun.

Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya – QS al An’am/6 ayat 160->.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Imam Nasaa-i dengan lafazh :

جَعَلَ اللهُ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَشَهْرٌ بِعَشْرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ تَمَامُ السَّنَةَ

Allah memberikan ganjaran kebaikan itu sepuluh kali lipat, satu bulan sama dengan sepuluh bulan; dan puasa enam hari setelah hari raya ‘Idul Fithri merupakan penyempurna satu tahun.

Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya dengan lafazh :

صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بِشَهْرَيْنِ فَذَلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ

Puasa bulan Ramadhan, (ganjarannya) sepuluh bulan dan puasa enam hari (sama dengan) dua bulan. Itulah puasa satu tahun.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dengan lafazh :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَسِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَقَدْ صَامَ السَّنَةَ

Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dan enam hari pada bulan mulia Syawal, berarti sudah melaksanakan puasa satu tahun.

Diriwayatkan oleh al Bazar, dan salah satu jalur beliau adalah shahih.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَه بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ فَكَأَنَّمَا صَامَ الدَّهْرَ رواه البزار وأحد طرقه عنده صحيح

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda :

Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan melanjutinya dengan enam hari pada bulan Syawal, maka seakan dia sudah berpuasa satu tahun.

Semua hadits di atas dinyatakan shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, sebagaimana terdapat pada kitab Shahihut Targhibi wat Tarhib, no. 1006, 1007 dan 1008.

Semoga Allah senantiasa memberi taufik dan hidayahnya kepada kita semua. Aamiin

Semoga artikel Puasa Syawal dan Qodho Puasa Ramadhan mana yang utama ? bermanfaat.

Sahabat, baca lagi yuk artikel berikutnya Bagaimana Cara Jaga Kesehatan Selama Berpuasah

Sumber : almanhaj .or.id  dan Majmu’ Fatwa wa Maqalat Ibni Baz, jilid 15, hlm. 391

 

2 Comments

  1. TYRA January 22, 2019 Reply

Add a Comment

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Call Now Button
Shares
error: Content is protected !!
%d bloggers like this: